RSS

SULUK SEMBAH PUJI

17 Mar

K I N A N T H I

01. Kinanthi sembah punika, miwah pujine yen puji, pan ika turing sapa, pen katura mring Hyang Widhi, dene nora warna rupa, yen tan katur tanpa kardi.

Dengan  sembah ini, serta pujinya apabila di puji, dan itu ucapannya siapa, kalau dipersembahkan kepada Hyang Widdi (Tuhan), yang tiada berupa dan berwarna, jikalau tidak dipersembahkan tiada gunanya.

02. Tawang towang pujinipun, angar aja nembah muji, yen tan katur maring Allah, sumantana tan wring dhiri, kawula pan nara gadhah, mapan kapurba ing gusti.

Setinggi langit pujinya, agar jangan menyembah dan memuji, jikalau tidak dipersembahkan kepada Allah,  jangan lancang dan  tidak tahu diri, hamba itu tidak mempunyai apa-apa, karena dikuasai oleh Gusti.

03. Lan kawisesa sireki, weruha lakuning puji, ya kang sembah lan sinambah, iya sapa kang duweni, puji pan pujining Allah, kawula tan darbe puji.

Dan engkau dikuasai, dan ketahuilah jalan memuji,   yang menyembah dan disembah, ya siapa yang mempunyai, puji adalah pujinya Allah, hamba tidak mempunyai puji.

04. Tan kawawi paminipun, miwah penggawe nireki, tumrap badane sedaya, anging Allah kang darbeni, endi aran puji sembah, tegesing sembah lan puji.

Tidak kuasa umpamanya, serta perbutanmu, terhadap seluruh badannya, hannya Allah yang memiliki, manakah yang dinamakan memuji dan menyembah, artinya sembah dan memuji.

05. Kanugrahan jatinipun,  kang tumiba marang dasih, endi aran kanugrahan, iya sajaning urip, pan urip-uriping sapa, lamun uriping Hyang Widhi.

Kanugrahan (anugrah) sesungguhnya, yang diberikan kepada hamba, manakah yang dinamakan kanugrahan, yaitu sejatinya hidup, dan hidup-hidupnya siapa, kalau hidupnya Hyang Widdi (Tuhan).

 

06.  Urip tandhane nyaweku, pan urip-uripe pribadi, uripen tan kena pejah, beda lan uriping dasih, uripe kalawan nyawa, kang tiba ing kawuleki.

Hidup tandanya nyawamu, dan hidup itu hidupnya sendiri, hidupnya tidak terkena mati, berbeda dengan hidupnya hamba, hidupnya dengan nyawa, yang jatuh kepada hambanNya.

 

09. Kanugrahaning Hyang Agung, lire kanugrahan urip, iya uriping manungsa, kayatakaning Hyang Widhi, dalile Allah kang murba, dipun padha angawruhi.

 

Kanugrahannya (anugrahnya) Hyang Agung (Tuhan), seperti kanugrahan hidup, yaitu hidupnya manusia, merupakan kenyataannya Hyang Widdi (Tuhan), dalilnya Allah yang menguasai, itu yang sama-sama harus diketahui.

10. Endi urip jatiningipun, kauripan tri prakawis, den becik tarimanira, angel jinenging urip, tegese kangtri prakara, maripate imam Tokid.

Dimanakah hidup yang sesungguhnya, kehidupan tiga perkara, terimalah dengan baik, susah yang namanya hidup, artinya yang ketiga perkara, makrifat iman tauhid.

11. Saya tunggal sajatinipun, pangleburan papat tulis, tan ana gusti kawula, kaya ngapa kaum tunggil, yen beda di bedanira, pan nora pisah sayekti.

Sesungguhnya telah bersatu, meleburnya antara papan dan tulisan, tidak ada lagi Gusti dan hamba, seperti apakah jika telah bersatu, jika berbeda dimana perbedaannya, sungguh tiada berpisah.

 

12. Dene salamet ing kawruh, tegese kang iman tokid, tegese wus nyata tunggal, tunggal kawula gusti, apan jenenging kawula, sajati jatining sepi.

Dan selamat dalam pengetahuan, artinya yang iman tauhid, artinya sudah nyata bersatu, bersatu hamba dan Gusti, dan yang namanya hamba, yaitu sesungguh-sungguhnya kehampaan.

 

13. Tanpa salah tingkah iku,  tegese makripat nenggih, ingkang awas mring pangeran, tegese awas kang pundi, kang awas punika sapa, kawula pan duta tuli.

Tanpa salah tingkah itu, artinya makrifat yang benar, yang waspada kepada Pangeran, artinya waspada yang manakah, yang waspada itu siapa, hamba adalah utusan yang tuli.

14. Bisa lumpuh lawan suwung, kuwasa nora nyadani, katur ing puji lan sembah, pan nora ngulati malih, katur marang dhewekira.

Bisa lumpuh dan hampa, berkuasa namun tidak berhak, diberikan dalam puji dan sembah, dan tidak melihat lagi, diberikan kepedaNya.

 

15. Pan iya manembah iku, puji pinuji pribadi, sarake dadya lantaran, kanyatahaning Dat Tallah, dudu unine pribadi.

Serta manembah itu, memuji dan dipuji pribadi, syariatnya menjadi perantara, kenyataannya Dzat Allah, dan bukan ucapannya pribadi.

 

16. Mantep jeneng kawuleki, tegese paranimeki, tanpa wujud tanpa salah, lir larah aneng jaladri, amuji lawan anembah, denira pasrah kang becik.

Yakin yang namanya hamba, artinya tujuannya, tanpa wujud tanpa salah, seperti sampah di lautan, memuji dan menyembah, dan engkau lebih baik pasrah.

 

17. Marang tarina wruhipun, dene kawruhan sekalir, wruh Pangeran ingkang mulya, lire kawruh tan ngawruhi, yen kang narima den trima, anyata yen sira pribadi.

Menerima kepada yang mengetahui, sedangkan semua pengetahuan, mengetahui Pangeran yang mulia, seperti pengetahuan namun tidak mengetahui, jika yang menerima diterima, ternyata itu kamu sendiri.

sumber : http://alangalangkumitir.wordpress.com/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17/03/2013 in Budaya Jawa

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: